28 November 2007

Tobat

"Bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung" (Q.S.An Nuur : 31)

"Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri" (Q.S.Al Baqarah : 222)

Apabila engkau menghabiskan siang harimu dalam ketaatan, maka bersyukurlah. Tetapi apabila ternyata engkau melakukan maksiat, maka sesalilah serta cepatlah beristighfar dan bertobat kepada Allah. Kehinaan, kegelapan, dan hijab terkait erat dengan maksiat. Jika engkau bertobat kepada Allah, bekas-bekas dosa itu pun menjadi sirna.

Tobat merupakan karunia Allah yang diberikan pada hamba Nya yang dikehendaki. Jika engkau berhasil bertobat, berarti Allah telah mencintaimu. Apabila hawa nafsumu mulai condong pada syahwat, harta, jabatan, dan pujian orang, segeralah lari menuju Allah dan memohon pertolongan Nya, pasti Dia akan menyelamatkanmu.

Jangan sampai keputusasaan menghantui kalbumu sehingga engkau merasa dosamu yang menumpuk tak akan diampuni Tuhan. "Katakan, Wahai para hamba Ku yang telah melampaui batas, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah (berkenan) mengampuni semua dosa. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S.Az Zumar : 53)
Jika tobatmu diterima, yang tandanya engkau merasa lapang ketika melakukan ketaatan serta cenderung pada kehidupan akhirat - maka bersyukurlah kepada Allah atas karunia Nya.
Jika tobatmu belum diterima, yang tandanya engkau masih menikmati maksiat dan masih merasa senang dengannya, minta tolonglah kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah dalam bertobat.
Marilah kita bertobat kepada Allah dan bersimpuhlah kepada Nya dengan penuh insyaf, zikir dan rasa penyesalan. Siapa yang terus menerus mengetuk pintu Allah, niscaya Dia akan membukakan pintu tersebut karena keluasan kasih Nya.

Semoga kita termasuk golongan orang yang bertobat dan didekatkan kepada surga yang penuh nikmat. Amin.
(dikutip dari buku Tutur Penerang Hati, penulis Ibn 'Atha'illah)

26 November 2007

Menikmati Setiap Episode Hidup (Aa' Gym)

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-Ashr (103):1-3)

Langkah awal agar kita mampu menikmati setiap detik hidup ini, adalah dengan menumbuhkan sikap ridha (rela menerima kenyataan). Kebahagiaan dan kesedihan, keuntungan dan kerugian, akan terasa nikmat dengan sikap ridha. Mengapa demikian?
Kesengsaraan hidup walaupun dihadapi dengan sikap dongkol uring-uringan, keluh kesah, tetap saja kenyataan sudah terjadi. Pendek kata, disesali ataupun tidak, ridha maupun terpaksa, tetap saja kenyataan itu sudah terjadi dan dialami. Jadi, lebih baik hati kita ridha menerimanya.
Tentu saja ridha terhadap kenyataan yang dialami, bukan berarti pasrah total, sehingga tidak bertindak apapun. Itu keliru, ridha itu amalan hati, sedangkan pikiran dan tubuh kita wajib ikhtiar untuk memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhai Allah. Kondisi hati yang ridha sangat membantu menjadikan proses ikhtiar menjdi positif, optimal dan bermutu.

Orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental menerima kenyataan yang ada. Pikiranya tidak realitis, tidak menerima kenyataan dan tidak berpijak kepadanya. Sibuk menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Sungguh, suatu kesengsaraan dan kepedihan hidup yang dibuat sendiri. Oleh karena itu, sadarilah hidup kita ini terdiri dari berbagai episode yang tidak monoton. Kenangilah perjalanan hidup anda, ambilah kearifan dari setiap episode yang anda telah lalui. Kenanglah dengan kelapangan dada, dinginnya emosi, dan keikhlasan. Tidak ada gunanya menyelimuti kenyataan hidup ini dengan keluh kesah. Itupun tidak menyelesaikan masalah, bahkan menambah luka yang anda alami. Tetapi atasi dengan hati yang ridha, sehingga kita menikmati setiap episode hidup kita sambil berikhtiar memperbaiki kenyataan pada jalan yang Allah ridhai. Wallahu'alam bish shawab.

23 November 2007

Mukjizat Al Qur'an?

Maaf kalau setiap judul selalu memakai Question Mark, karena itulah yang ada dalam pikiran ku tentang kejadian2 yang aku alami. Dulu aku sering denger kalau AlQur'an itu diturunkan bukan hanya sebagai petunjuk umat manusia tapi juga sebagai obat/penawar terutama sakit hati ataupun stress. Dan dari info yang aku dapet kalau hati gelisah, dengan membaca Al Qur'an hati bisa menjadi tenang. Akhirnya aku coba buktikan saat hati gelisah karena ada masalah aku membaca Al Qur'an....maaf...kok hatiku tetep gelisah dan sulit buat khusyu', aku coba baca terjemahnya...lagi-lagi maaf...kok isinya tentang perang mulu'..ada perang Badr, perang Uhud...
Aku ndak dapet apa2!!!..Innalillahi Wa Innailahi Rooji'un (inilah musibah!)

Berawal di bulan suci Ramadhan yang lalu, karena ujian yang dahsyat itu mendorong aku untuk terus memperbaiki ibadah, banyak2 bertaubat...aku mulai membaca Al Qur'an kembali & berusaha memahami artinya. Sampai pada ayat tentang perintah Allah untuk bangun malam, dan melaksanakan shalat tahajjud. Dengan bangun dimalam hari bacaan dalam shalat menjadi lebih khusyu' & berkesan, Subhanallah!! Aku baru menyadari bahwa Allah bener2 memperhatikan kita sampai hal detail sekalipun. Ayat inilah yang membuat aku seperti kena strum & membuat aku semakin berusaha memahami setiap ayat2 Nya. Mungkin setiap orang berbeda- beda yang membuat "tersentuhnya", disini aku ngerti ternyata dulu2 aku belum bisa menemukan kelebihan Al Qur'an karena terhijab oleh dosa2ku.

Jadi untuk mencari jalan menuju Allah kita harus banyak2 bertaubat, karena Allah menyukai hambaNya yang bertaubat. Dan Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan mengunci hati siapa yang Dia kehendaki.

20 November 2007

HiDaYaH ???

Ini bukan sinetron tapi kalau isi ceritanya dijadikan sinetron boleh juga....tambah penghasilan deh. Apakah Allah memberikan hidayah kepada hamba Nya bertahap sesuai kemampuan, aku kurang paham. Dari pengalamanku, 15 tahun lalu aku dapet hidayah untuk memakai jilbab. Penuh perjuangan terutama melawan sifat2 buruk yang sudah di install sekian lama, sebuah "Proses" katanya. Tapi bagaimana akhir dari proses itu Wallahu'alam bishawab, yang pasti niat teuteup ingin menjadi "Muslimah Sejati". Dalam perjalanan..istilah sufi suluk kali ya (maaf kalau sok tau..) banyak kejadian2 yang bisa jadi pelajaran. Bodohnya aku selalu terlambat mengambil hikmahnya. Hal sepele memang, seperti putus cinta karena pacar yang over protectif (sifat jangan disebut yah ghibah katanya...) sebetulnya itu mengajarkan aku untuk bersabar, dan harusnya aku bersyukur karena Allah menjaga aku melalui dia. Dalam hal ibadah lainnya aku juga mengalami proses naik-turun. Semasa kuliah ibadah ku baik secara kuantitas, tapi dari segi kualitasnya masih kurang. Ibadah fardhu & sunnah rajin aku kerjakan. ikut pengajian rutin tapi....maksiat kok jalan terus?? Astagfirullah, berarti ada yang belum bener nih..Setelah tamat kuliah aku mulai belajar tentang kehidupan (telat banget yu...yu..wis tuwe baru nyadar arti hidup ki piye?)

Akhirnya ibadahku kualitasnya bertambah, tapi kuantitasnya berkurang. Aku cuma kerjakan yang fardhu aja. Apakah ini yang namanya kebangkrutan iman atau apalah tapi aku mulai dari nol. Sedikit tapi pasti maksudnya siy begitu. Eehh...ternyata belum cukup juga untuk membentengi diri dari kemaksiatan (syaithon menghalangi temannya yang mau bertobat rupanya...hehehe...jujur banget). Ujian demi ujian aku lalui, mulai dari merasa itu sebagai musibah, gak terpikir & gak merasakan apa2, sampai mencari hikmah dan memperolehnya (Alhamdulillah).

Tahun 2007 ini adalah tahun pembelajaran tingkat Advance, ujian lumayan berat dan saat inilah Allah mengenalkan diri Nya pada ku. Dan apakah ini hidayah kedua? Semoga. Ternyata selama ini aku terlalu sombong, sangat percaya akan kemampuan yang aku miliki tapi lupa akan Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Ujian kali ini menyadarkan aku bahwa aku bener2 makhluk Allah yang gak berdaya. Sebetulnya dari dulu juga tau Allah Maha Kuasa, tapi cuma TAU belum YAKIN. Alhamdulillah proses yang menyakitkan ini memberikan banyak hikmah dalam hidup yang tinggal sesaat lagi. (lebih baik siap mati tho drpd pas malaikat maut jemput kita malah bilang..kok buru2 siy...?)

Sekarang aku terus memperluas wawasan, memperdalam agama, memperbaiki diri, menambah kualitas ibadah, dan banyak hal yang masih harus dibenahi.

Semoga Allah memberikan keistiqomahan dalam beribadah, Amin.
Powered By Blogger